moss graffiti atau graffiti yang menggunakan lumut,disebut juga eco-graffiti atau green graffiti, menggantikan cat semprot, cat-spidol atau cat lainnya yang menggunakan zat kimia beracun.
Tidak hanya para desainer interior, arsitektur dan juga botanist yang menginginkan kondisi bumi kembali seperti sedia kala. Desainer grafis dan juga para pencinta grafiti juga turut andil menyumbangkan karyanya yang mendukung terciptanya lingkungan Eco Designer Sang Peduli Lingkungan.No spray, no painting, no smoke no CFC gas. Grafiti kali ini benar-benar sangat peduli dengan lingkungan. Tidak ada gudang CFC tambahan yang menjadi penyumbang semakin besarnya lubang ozon, tidak ada penggunaan cat berlebihan. No more pain to spread.
.Anna Garforth.
Anna Garforth berkerjasama dengan dengan Elly Stevens membentuk El & Abe.El & Abe menciptakan sebuah karya seni dengan konsep berkelanjutan atau sustainable. Proyek kolaborasi pertama mereka disebut dengan MOSSenger
Selasa, 19 Juli 2011
Moss Graffity
Sejarah Seni Lukis
Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari drawing. Sejarah Seni Lukis akan kami coba ulas dalam beberapa tulisan, sebagai berikut :
Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.
Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.
Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.
Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.
Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.
Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
Seni kerajinan
Temuan jaman kuno banyak memberikan contoh tentang berbagai usaha untuk menambahkan nilai keindahan terhadap peralatan yang digunakan sehari-hari. Temuan Osberg menghasilkan tekstil dan ukiran kayu dengan standar profesional, yang memberikan banyak bukti hasil karya para artis yang pandai. Tata ruang dan perlengkapan gereja jaman pertengahan Norwegia juga merupakan bukti kemampuan seni yang tinggi, yang ditunjukkan dengan ukiran mimbar, dengan berbagai jenis peralatan upacara dari tembaga dan perak, serta tekstil yang dianyam secara indah seperti karpet hiasan Baldishol yang dibuat oleh artis yang tidak terkenal, yang merupakan kebiasaan pada saat itu.
Gambar bunga mawar merupakan teknik melukis dekoratif Norwegia yang unik, yang menggunakan bunga mawar dengan berbagai bentuk dan ukuran sebagai pola utama. Terkenal didalam masyarakat petani jaman dahulu dan komunitas peternakan, saat ini lukisan mawar dianggap sebagai seni rakyat klasik Norwegia.
Selama abad ke-16, para tukang emas Norwegia mulai menandai produk mereka, jadi sejak saat itu hingga sekarang, nama para pekerja seni selalu tertera dalam produk akhir.
Tradisi lainnya yang berkembang selama jaman Renaisanse adalah tradisi kuno anyaman bergambar, kegiatan para kaum wanita yang dimulai di wilayah Gudbrandsdalen. Mulai pada awal abad ke-17 seni baja Norwegia juga menghasilkan ukiran bernilai artistik tinggi, yang menjelaskan seni kerajinan asli Norwegia.
Di daerah pedesaan, tradisi ukiran kayu dan lukisan bunga mawar terus dipertahankan hingga abad ke-19. Kemerdekaan yang diraih pada tahun 1814 menjanjikan banyak kesempatan baru bagi komunitas seni kerajinan, namun kemiskinan menghambat perkembangan ini. Dalam paruh kedua abad ke-19, seni kerajinan Norwegia masih dipengaruhi secara kuat oleh tradisi kuno. Namun secara perlahan, teknologi baru mulai memasuki dunia produksi seni kerajinan. Didirikan pada tahun 1852, Hadeland Glassworks menghasilkan produksi gelas yang lebih baik, seringkali menggunakan teknik asing berstandar tinggi. Industri Egersund Faiance memperkenalkan seni batu Inggris dan pada tahun 1887, Pabrik Keramik Prosgrunn dibuka.
Masa 100 tahun terakhir telah menjadi saksi meningkatnya pengakuan nilai-nilai keindahan seni kerajinan, dengan banyaknya pameran seni kerajinan bertaraf internasional yang diadakan di pusat keramaian. Penting bagi perkembangan ini adalah tren diantara tukang emas Norwegia yang lebih memusatkan perhatian pada aspek disain artistik dari seni kerajinan mereka.
Minat baru dalam seni kerajinan Norwegia selama periode Jugend juga memberikan inspirasi renaisanse dalam menggunakan simbol Viking kuno seperti kepala naga, yang sejak saat itu banyak digabungkan ke dalam berbagai bentuk seni kerajinan dan menarik minat dunia internasional serta menjadi simbol nasional.
Disain fungsionalis pada tahun 1930 memiliki dampak signifikan terhadap produksi kerajinan Skandinavia dan pada tahun 1950 melahirkan bentuk yang berbeda dan lebih halus, yang dikenal dengan Disain Skandinavia.
Pembangunan pada tahun 1979 dengan cepat mengubah industri kerajinan. Tekstil, gelas, keramik dan kerajinan lainnya sekarang diterima penuh sebagai bentuk seni visual dan arti sebenarnya dari sebuah produk tidak lagi dianggap penting. Pada tahun 1974, para perajin seni dan artis melalui asosiasi Norske kunsthåndverkere (Artis Seni Kerajinan Norwegia) akhirnya diperhitungkan dalam Skema Jaminan Pendapatan Negara dan lebih diterima oleh komunitas artis Norwegia. Selama tahun 1980, disain industri mulai dianggap penting, dan jumlah pekerja seni yang ditunjuk untuk menghias area publik dan gedung-gedung mulai meningkat. Lebih lanjut, seni kerajinan dan disain merupakan bagian penting dari ekspresi artistik pada Olimpiade Musim Dingin 1994 di Lillehammer.

Langganan:
Komentar (Atom)












